Friday, July 09, 2004

PIKIRAN ANEH DI SAAT KRITIS



Kemarin jum'at aku baca dialog jum'atnya Republika di bagian Khazanah yg berisi ttg filsuf muslim yg berasal dari Guadix, Spanyol 1110 M, yaitu Muhammad Abu Bakr Ibnu Tufayl (Ibn Tufayl). Disitu dibahas tentang kesejajaran antara Ibn Tufayl dengan Jostein Gaarder seorang filsuf dari Oslo (bukan Solo loh hue he he he. Yang dr Solo dah mau khatam bentar lagi, akan digantikan filsuf besar yg lahir di Aceh ehemm uhuy hue he he he, PD abiss dulu sebelum pingsan berkepanjangan).

Kedua filsuf tadi sama2 dikatakan sebagai penggeber dunia filsafat lewat sebuah novel sehingga akan memudahkan dan memfamiliarkan orang awam dalam memahami filsafat. Gaarder lewat Dunia Shopie nya dan Ibn Tufayl lewat Hayy Ibn Yaqzan (The Living Son of Vigilant). Kedua novel itu sama2 beralur dan menceritakan ttg perjalanan spiritual seorang anak manusia yg masih sangat muda yg mempertanyakan asal usul manusia atau Sangkan Paraning Dumadi kalau dalam bahasa jawanya.

Di novel2 itu scr garis besar pertama2 akan digambarkan ttg pengetahuan manusia yg muncul dr sebuah kekosongan, kemudian mereka menemukan pengalaman mistik sebut saja begitu (ssttt.... hati2 loh ntar ada yg bilang sirik kalo ngomongin masalah mistik). Melalui pengalaman itulah mereka mulai berhubungan dengan Tuhan. Dengan laku spiritual yg tak hanya dilakukan scr an sich. Untuk mencapai pengalaman tersebut manusia juga musti "mematikan" dirinya.

Dalam novel itu disebutkan bahwa pengalaman2 di alam bebas yg terasing dr bisingnya dunia manusia "modern" di mana di sana ada pembelajaran scr alami dari hasil pengamatan terhadap alam dan tindak tanduknya. Tak lupa pengalaman adanya perjumpaan, perpisahan, kelahiran, dan juga kematian akan membuahkan transformasi kehidupan, dari ketergantungan beralih menjadi eksplorasi dan penemuan. Dari suatu perpisahaan maka orang akan tau rahasia perjumpaan, dari kematian orang akan tau keberadaan dirinya.

Lewat pengamatan akan hal2 kecil akan mulai berkembang dan memacu untuk berpikir hal2 yg lebih besar. Mulai dari organ , kemudian entitas, dan selanjutnya obyek. Dari sana akan di dpt konsep tentang benda, bentuk, sebab dan efek, kesatuan serta keberagaman. Juga konsep yg lebih hakikat seperti "dunia" dan "dunia kemudian". Dari itu semua akan didpt suatu kesimpulan penting yaitu : "Semuanya diciptakan oleh pemilik eksistensi dan selalu berhubungan dengan pemilik eksistensi, yaitu Tuhan".

Sementara di lain pihak ada manusia lain yg hidup di tengan bisingnya manusia2 modern, yg hidup dg menjalankan suatu "agama". Agama itu dijalankan sesuai dg kitab sucinya meskipun hanya sebatas ritual dan masih melalui perantara. Manusia itu sangat penasaran (ingat baik2 yah dek penasaran = rasa ingin tau yg mendalam, menggelora dan menggeliat hue he he he) dan melakukan kajian ttg ritual agama tsb, langsung ke inti agamanya bukan literal seperti yg dilakukan oleh orang2 lainnya. Ia berusaha mencari apa sebenarnya yg ada di dlm kitab itu. Ia kemudian melakukan perjalanan ke suatu daerah yg terasing dr manusia2 modern itu dan bertemulah dg seorang anak manusia yg telah menemukan konsep dan kesimpulan tentang eksistensi manusia dan Tuhan, kematian, kehidupan, dan jg tentang utusan2 Tuhan. Keduanya saling bersinergi dan diskusi dan mampu menemukan titik temu bahwa apa2 yg ada d kitab suci agama orang2 modern itu sebenarnya adalah sama seperti hasil perenungan dan pemikiran si anak "terasing" tadi.

Kemudian keduanya melakukan perjalanan menuju dunia bisingnya orang2 modern dan bermaksud menyampaikan kebenaran dari keyakinannya tadi. Tapi apa dinyana di sana mereka menyadari bahwa sejumlah orang modern tidak dpt menangkap kebenaran sejati itu, dan mereka menyadari bahwa agama hanya diperlukan untuk stabilitas dan perlindungan sosial. Kedua orang itu berpikir bahwa yg dilakukan orang2 modern itu thd agamanya adalah bukan sumber ketaatan kepada Tuhan apalagi sumber kebahagiaan. Mereka ingin menyadarkan orang2 modern itu tapi menyadari jg bahwa usaha pencerahan itu akan membawa ke instabilitas nasional (wekkzz kayak mau pemilu ajah) , maksudnya instabilitas masyaeakat dan kegoyaan kehidupan serta keyakinan yg dikhawatirkan akan berdampak buruk akibat ketidak siapan manusia2 modern itu menerima kebenaran.

Keduanya lalu memutuskan untuk kembali ke dunia terasing dan mempraktekkan perilaku spiritual yg melahirkan pengalaman mististisme. Dari pengalaman itu akan ditemukan dua fakta ontologis yaitu :
1. Disamping keberagaman benda terdapat sebuah kesatuan. Dan selalu ada sesuatu yaitu jiwa yg selalu transeden. itulah awal dr kesadaran terbentuknya dunia, bahwa dunia tak terjadi tanpa adanya ruang dan waku. Dan penyebab semua itu adalah Tuhan.

2. Kesadaran merupakan alat investigasi untuk mengetahui keberadaan Tuhan. Dan hanya ada satu jalan untuk mencapai kebahagiaan dlm kehidupan dan setelah hidup, yaitu "Kehadiran sebuah energi yg selalu menuntunnya kepada Tuhan"

Wahhhh dah panjang yah sepanjang surat cintaku kepada sahabatku terkasih hue he he he , maklum nggak punya pacar yg bisa dikirimi surat cinta (emang penganut aliran pacaran apa yah ? nggak lah yaww, aku kayak Dee ajah ikut2 an PID). Yahhh seperti inilah seharusnya persahabatan itu bisa membawa kita untuk lebih mengenal Nya, lebih mencintai Nya, tunduk sujud kepada Nya, melaksanakan yg baik dan benar menurut Nya, mengingatkan kita apa arti hidup ini dan harus diapakan hidup ini, mengingatkan kita akan adanya kehidupan abadi sesudah kehidupan sementara. (masih bisa didebat kok bagi yg hobi debat ... debatlah aku kau kujitak hue he he he).

Debatnya bisa panjang loh, pasti ntar ada yg nanya :
1. Apakah Tuhanku dan Tuhanmu itu sama ?
2. Apakah agama itu sebenanya ?
3. Mustikah orang beragama ?
4. Tidak cukupkah hanya beriman kepada Tuhan dan berbuat baik saja ?
itu yg banyak dibilang orang pertanyaan2 atheis atau kafir, musrik dll

Terlepas dr itu semua sebenarnya aku cuma mau bilang, aku sangat berterimakasih kepada bapakku yg aku baru sadar, ternyata pola didiknya yg selalu membawa aku ke pertanyaan2 yg mendalam dan yg kadang membuat aku tak berdaya. Itu semua sangat mempengaruhi jalan hidup dan pola pikirku sekarang ini. Pola pikir yg dianggab sebagian orang penuh muslihat dan kesesatan, kemusrikan, kekafiran, ke .. apalah lagi , ahhh entahlah memang penuh ketidak wajaran kali yah (hikzz nangis deh jadi inget mega keren).

Abis baca Republika itu aku baru tau kalo dulu bapak sering bercerita yg mirip2 spt itu (jangan2 bapak ngutib dr novel itu yah hue he he he , ntar aku klarifikasi deh), sebenarnya ingin mendorong aku untuk mengetahui sangkan paraning dumadi ini, yahh asal mula dan sebab adanya kehidupan ini. I luv daddy , setelah terlebih dahulu I luv mommy 3 kali lipat okeyyy.

Trus masih ada nih yg mengganjal di kepalaku yg gundul ini hue he he he, mungkin pertanyaan2 tendensius mnrt orang lain ataupun pertanyaan2 retoris ataupun pertanyaan2 tak berguna bagi yg lain (Ahh aku jd inget bro yg berpegang pd prinsip pragmatisme dan berpikir fair, fairplay kali yah, gini loh katanya : "Jangan pedulikan omongan dan pikiran orang lain, kita fair2 ajahlah, selama kita dah berketetapan hati dan pikiran jalani ajah semampu kita, jangan pedulikan orang lain, asal tindakan kita nggak ngerugikan orang lain jalan lurus ajah, jangan tengok kanan kiri. Cuek is the best kah ?...... Aahh bro semakin aku mengatakan tak peduli, sebenarnya semakin jelas kalo aku peduli dan aku sangat memikirkan atau bahkan terpengaruh oleh sikap dan pikiran orang lain terhadap diriku ini. Aku rentan masalah kayak gini masih selalu mudah terusik dan terpengaruh kpd khalayak ramai. Imbasi dong sikap pragmatis dan fair dirimu kepadaku.)

Pertanyaan2 adalah :
1. Di saat agama yg kita anut ini dah kita pegang dan yakini kebenarannya, ternyata di sana masih banyak peluang2 untuk meraguinya lagi , nah loh gimana dong
2. Di saat kita dah yakin gitu, kemudian kita open mind dan ternyata melihat masih banyak keragaman dlm satu agama, lalu haruskan kita saling mencaci maki dan menghina satu sama lain, lalu di mana letak kedamaian dan keselamatan agama itu ?, pasti jawabnya adalah demikian : "itu bukan agamanya yg salah tapi para pemeluknya", gitu kan.
3. Di saat kita pengen bermesraan dg Tuhan kita yg kita yakini benar2 bahwa memang Dialah Tuhan kita itu, tiba2 saja banyak yg mempertanyakan masalah beribadatan kita, beribadatan yg sesat katanya, yg nggak berdalil dan hanya ritual tambah2an.

Jalan menuju ke Allah itu banyak kata orang bijak, sirrotolmustaqim itu bentuk jamak katanya, bukan hanya tunggal, betulkan itu yaaa para kyai dan alim ulama ? Beri aku pencerahan, sebelum aku binasa di tengah jalan, bantulah aku bapak, ibu dan para saudara sekalian.

Wahhh aku nulis kayak gini di blog pasti akan ada yg kontroversi lagi, menganggap aku mempublikasikan kesesatan dan tabiat2 burukku. Hanya inilah doa ku.

Wahai Allah SWT
Ampunilah hambamu yg nista dan hina ini ya Allah
Tuhanku seru sekalian alam

Bukan maksud hamba menistakan agamamu ataupun menyekutukan Mu
aku hanya ingin mengenal Mu lebih dekat dan jg kebaikan dr hukum2 Mu
tidak bolehkan hambamu ini ingin lebih mendekat dan lebih mencintai Mu

apakah salah hamba2 Mu yg begitu mencintai Mu
berdoa kepadamu , bersyair kepadamu, berdzikir kepada Mu
menyeru Mu, mengejar Mu dan segala kebaikan yg ada kepada Mu

berdosakan hamba2 Mu yg melintas batas terkeras
berusaha untuk lebih menomor satukan Mu
tak mabuk kepayang menonton kemenangan winner piala Euro 2004
tapi mabuk dalam mencintai Mu

bahkan mulutku kelu dlm diam doa dan dzikir pd Mu

[aku yg menunggu perhelatan akbar di hari yg sudah ditentukan]


NB: Aku tak berdiri, membelakangi, ataupun mengklaim mazam manapun dr banyak mazab yg telah banyak di dengungkan. Aku hanya berdiri di sini, mencoba menyibak kelam, menerjang badai, menembus batas kekerdilan diri. Keterangan lebih lanjut lihat blog langkah pertamaku
(weiitt kayak resep dokter ajah)

PERINGATAN KERAS : "Tutuplah blog ini jika anda merasa blog ini membawa ke sesatan, jangan jamah blog ini, sampai saatnya tiba blog ini akan mati dg sendirinya"

0 Comments:

Post a Comment

<< Home