MENGUAK RAHASIA MALAM
sansoyo dalu araras abyor lintang kumedap titi sonyo madya ratri gandaning puspita oh oh oh oh .... tru .. tuk tuk tuk tuk tuk
Sayup-sayup terdengar suara dalang diiringi waranggana dan para pesindennya menyajikan suguhan wayang kulit di tengah malam. Salah satu aktifitas malam yg mendatangkan lapangan pekerjaan dan juga mendatangkan kenyamanan bagi yg sanggup menikmati pementasan wayang semalam suntuk.
Malam ....
Fenomena alam yg makin kelam
Yang tidak ketahuan siapa atau apa yg berpihak. Manusia yg berpihak kepada malam, ataukah malam yg berpihak pada manusia.
Pernah kumencoba mendedah malam, menelusuri jalan-jalan pekatnya. Mencoba belajar peradapan malam. Mencoba memahami kejadian di sepanjang malam. Mengamati jalan-jalan kehidupan dalam wacana malam.
Di sana, ada bus-bus yg siap mengangkut para pekerja pabrik yg kena shift malam. Aku mencoba menghitung sebahagian manusia-manusia malam, ternyata dalam bus-bus itu jumlah wanita sangat lebih banyak dibanding jumlah prianya. Pria hanya sbg sopir dan kondektur, sisanya adalah wanita. Di pabrik demikian juga, wanita-wanita tangguh begitu sibuk mengais rejeki, dan para pria hanya mengawasi. Entah sbg mandor, satpam, atau juragan.
Di sudut yg lain dalam keremangan malam, para bunga2 malam (aku lebih suka menyebutnya demikian daripada kupu2 malam) begitu genit dalam ketersudutan nasib. Si bunga malam yg sibuk mengais rejeki mencoba bertanggung jawab atas langgengnya nafas kehidupan bagi diri, anak suami, atau keluarganya, dan si pejantan malam yg sibuk memuaskan syahwat diri. Siapa yg pantas dipersalahkan ? Lagi-lagi wanita yg kena getahnya dg sebutan yg makin menghempaskannya, sementara si pria2 tersenyum lepas bebas, cuci tangan tak pernah disebut sbg si durjana malam.
Sementara di seberang jalan itu si upik dan si buyung belum jg terlelap. Masih bercanda dengan malam, sambil memanggul tanggung jawab yg belum pantas dipikulnya. Koran .. koran.. rokok... rokok.. aqua....aqua ... pak! ... bu!. Yang lain mencoba bernyanyi dengan suara parau karena mulai terserang kantuk .... "ngamen di tengah jalan la .. la ..la ..la".
Para cendekiawan dan sastrawan sibuk bermeditasi, menyelesaikan thesisnya, merenung mencari ilham untuk master piece selanjutnya, berdiskusi, bersunyi-sunyi, berbingung2 menemukan formula dan rumus tercanggih. Semua buku dibukanya, ditelusurinya, disadurnya (hue he he he ini sih aku).
Sudah pernah mencoba menghitung lebih banyak mana pedagang makanan di waktu siang atau malam di kota anda ? Teryata lebih banyak kalo malam di jogja ini. Apakah malam identik dg jiwa2 lapar ? lapar perut, lapar syahwat, lapar ilmu, lapar kalbu, lapar cinta, dan lapar akan lapar itu sendiri, waahh apaan ini nggak jelas banget.
Di dekat alun2 itu ada sepasang kakek nenek menggelar dagangannya, bakmi jawa dan wedang ronde. Usianya udah sekitar 65 ke atas aku kira, pernah kucoba bertanya "Kok mboten leyeh2 wonten griya kemawon mbah ? lha putrane kaliyan wayahe wonten pundi meniko kok mboten nderek cawe2 ngrencangi ?" (translate bebasnya bg yg binun : "Kok tidak santai2 ajah di rumah ? anaknya dan cucunya ada di mana kok tidak bantu2 berdagang ?"). Jawabannya seperti ini : "Anak kulo wonten jakarta dados kuli, putu kulo sekolah wonten mriki, sak meniko lagi main gaple, mesakaken sampun sedino kesel wonten sekolahan" (translate bebasnya bg yg binun : "Anak saya di jakarta jadi kuli, cucu saya sekolah di sini dan sekarang baru main gaple, kasian sudah seharian dia sekolah"). "Lha njenengan boten dikirimi arta napa kalian putrane ?" (translate bebasnya bg yg binun : "Simbah tidak dikirim uang apa sama anaknya ?"), jawabnya : "Wah kulo mboten remen ngresahi anak kulo, kulo taseh saged pados kiyambak, nganggur meniko marahi penyakit". (translate bebasnya bg yg binun : "Wah saya tidak suka ngepotin anak saya, saya masih bisa nyari uang sendiri, menganggur itu menyebabkan sakit2 an"). Wahh hebat TOP banget yah kakek nenek itu sekaligus memprihatinkan. Anaknya mencoba mengubah nasib, cucunya wealahh sangat amat tidak tau diri alias kurang ajar dorrrr tembak pake ilmu kadikdayan aten biar sadar!.
Para peronda mengamankan kampungnya sambil bersabung ayam dan berjudi menghabiskan waktu. Ada jg yg pamit dg menggantinya dg segepok uang ratusan rupiah hue he he he. Para penjaga pintu lintasan kereta berbekal galonan kopi mencoba terus mengawasi datang dan perginya kereta api. Para satpam dan penjaga malam siap dg handy talky nya "Roger dikopi roger .... situasi aman dan terkendali", begitu katanya. Tak tau kalo bosnya sedang sibuk menilep uang perusahaan dan sedang asyik masyuk dengan WIL atau PIL nya di sofa kantor.
Kenapa yah ada istilah malam pertama, bukannya siang pertama ? hue he he he, yg dah pengen jd pengantin nih mau tau ajah hue he he he. Termasuk rahasia malam jg kah ?
Dan di layar TV hantu-hantu malam bersliweran hi hi hi hi hi hua ha ha ha , hantu?? sapa takut ?? hue he he he. Hantu yg benar2 hantu atau bukan hantu yg berkedok hantu. Duarrrr maling teriak maling sembunyi balik dinding ...... Perompak, perampok, pembegal, bajing loncat. Ssttt ... dan tak lupa si penjahat kerah putih, belum bobok jg ternyata mereka. Masih sibuk mengkalkulasi laba dan apa2 yg bisa direkayasa dan digelapkan dalam kegelapan siang dan malam.
Lampu2 metropolitan makin riang dikala malam, joget berpeluk bau ekstasi, dansa berkeringat narkoba, dan taring2 jalang siap memangsa si sexy. Wahhhhh kayak udah pernah liat senyata-nyatanya ajah hue he he he. Cuma liat di film dan koran doang kok , cieeee sok suciiii.
Eh ternyata oh ternyata wisky, fodka, gin, tonic dan semacamnya udah begitu bebas dikonsumsi oleh remaja. Dan yg nggak punya uang lebih asyik minum oplosan racikan sendiri. Baygon dicampur beras kencur pernah nyoba ? hue he he he mari mati muda, mari mati konyol, kalo itu yg anda maui.
Di mana Tuhan kalau malam-malam ?
beserta para mukmin yg tekun beribadah, khusyuk menitikkan air mata, tengadah dalam doa, menekuni kalam Nya
Atau ....
beserta para pekerja malam yg tertindas, terhempas, tersudut dalam raungan nestapa.
Kepada siapakah Tuhan berpihak kala malam2 ?
di dalam wadah manusia yg gemar menistaan diri, yg hanya mengejar syahwat duniawi, menindas yg lemah dalam angkuh diri.
Atau ....
kepada ahli surga yg tak puas dan tak pernah bosan menyebut Nya, menyeru Nya, memuja Nya, meminta ampun kepada Nya , bertaubat nasuha, selalu mengutamakan Nya.
Lalu ...
salah siapa manusia2 yg karena kondisi harus berselingkuh dengan malam ? Malam yg seharusnya di jadikan waktu istirahat, bertafakur, dan mendekatkan diri kepada Nya. Justru menjadi ajang melestarikan sendi kehidupan dan menyabung nyawa.
Sementara ....
di sunyi malam aku asyik bercengkerama dengan keluarga, atau teman ngobrol di dunia maya. Kadang2 terperangah menikmati hamburan bintang, redupnya sinar bulan di atas sana. Berlagak menggali ilmu kejadian malam, berlagak tau rahasia semesta, berlagak jago menyingkap misteri ciptaan Nya. Dan kalau pas sadar mencoba berdekat-dekat dengan Nya.
Woahh ... saya ngantuk mbak fia kalau malam-malam hehehehe, padahal tenggat waktu penelitian makin mengejar. Lalu kapankah saya akan menemui dan bermesraan dengan si Dia? besok malam ? besoknya lagi ? atau kapan-kapan .....
(dapat dari email mbak fia dan saya bumbui sedikit-sedikit)
posting by loeloe sambil mengenang malam2 di gentheng bersama mbak fia

0 Comments:
Post a Comment
<< Home